❝ We tell ourselves stories in order to live ❞

Monday, 21 September 2015 @ 00:45 0 comment[s]


Untuk kamu yang pernah dipanggil mutant

Mungkin kamu akan sedikit terkejut menerima surat ini atau malah tidak sama sekali. Karena setauku kamu tak akan duduk diam tanpa mencari kejelasan atas rasa penasaranmu. Maafkan aku yang dengan lancang dan tak tahu malu mengirimi surat ini. Aku tak berniat apapun,  tolong bisakah kamu tidak berhenti membaca sebelum aku menyelesaikannya. Ada banyak hal yang ingin aku sampaikan. Hal – hal yang tak bisa terucap secara langsung padamu karena kita tak akan pernah bisa bertemu. Entah mengapa feelingku terus berkata seperti itu.

Kurasa kamu sudah terlebih dahulu mengenalku waktu itu. Ketika kamu menyapa salah seorang seniormu yang kebetulan adalah teman dekatku juga. Akupun masih mengingat kamu tersenyum ramah kepadaku. Raut wajahmu nampak biasa saja, kamu pintar mengontrol diri. aku tak mengira gadis ramah itu adalah wanita yang aku khawatirkan selama setahun ini. 



Sejujurnya aku telah mengetahui sejak lama tentang hubunganmu dengan kekasihku. Melalui perubahan – perubahan sikapnya. Sebuah senyum yang tak pernah dapat kuartikan ketika ia membaca pesanmu padahal aku nyata ada disampingnya. Sebuah tawa yang tidak pernah ia bagi kepadaku sebelumnya. Aku tau soal bangau, bondowoso, alun – alun dan beberapa hal lainnya. Akupun tau soal surat – surat yang kamu kirimkan padanya bulan februari lalu. Dan aku segera paham bahwa selama ini sumber kegelisahan diriku adalah kamu.

Aku tau ia mulai jenuh dan saat itu pula ia menemukan kamu. Gadis periang, lucu, manja yang ia kenal dari rapat pemilihan. Sosok baru yang dapat menyibak kebosanan dihatinya. Mudah bagimu menjadi yang utama baginya hanya dalam kurun waktu tak lebih dari sebulan. Sedangkan, hari itu aku masih berusaha. Berusaha mempertahankan apa yang kami punya. Meyakinkannya cerita kami tak hanya karena perjodohan semata melainkan dari hal-hal yang kami bangun bersama.  Mengingatkan akan asa yang telah terajut selama 7 tahun perjalanan hanya demi membuatnya bertahan. Dia bimbang. 

Aku tau dia tak pernah melihatmu sebagai adiknya atau junior yang ia kenal di lingkungan kampus. Ia melihatmu sebagaimana ia juga melihatku. Aku tau dia tidak berniat mempermainkanmu atau menyakitimu lin. Dia hanya tak sanggup untuk memilih keduanya. Dan maafkan sekali lagi jika ia lebih memilih untuk mengakhiri hubungan kalian. Mungkin ini terasa tidak adil bagimu tapi bisakah kamu mengerti? hubungan kami bukan hanya omong kosong yang dimainkan, kami adalah pertaruhan. 

Maafkan aku yang saat itu merasa lega karena aku tak perlu menanggung sakit ini sendiri. Maaf tak pernah memberi tahumu lebih awal dan akhirnya menyebabkan kekacauan di hidupmu, hidupku dan hidupnya. Maaf telah membiarkanmu menyelami lubang hitam yang tak berujung. Membiarkanmu mengharapkan hal yang  tak berkesudahan. Maafkan segala rasa yang pernah singgah dihatimu kemudian sengaja kamu tutup untuk sebuah penyelesaian sepihak. Maafkan aku lin, karena sempat berdoa pada tuhan seandanya kamu tidak pernah tercipta.


Dia minta maaf untukmu juga.


Maaf pernah menempati rumahmu untuk sementara waktu mbak. Sejujurnya aku tak pernah tau rumah itu berpenghuni. Aku kembalikan apa yang memang milikmu. Aku mengerti.


inspired by segara bayu


0 Comments:

Post a Comment








Home About Friends eMail

Di tempat ini, aku menulis untuk bahagia dan sedihku yang tak bisa aku ceritakan padamu secara nyata. Aku memilih menyimpan ceritaku pada layar maya dan menikmatinya untuk diri sendiri.

Linda Purwati Halim
Banyuwangi-Jember
Indonesia

Criticism is mostly welcomed

Recent Updates

Leave Your Footprint
See your own Mesage here



Find me here




made with love, ayemrawi
edited by me ((lindaAP))