Saturday, 11 February 2017

,

Sebening Kuah Soto



Jember, 11 Februari 2017
Halo Lian,

Aku merasa asing sekali memanggilmu Lian di surat ini, karena hasutan si Johan aku lebih sering memanggilmu "ibuk". Jadi salahkan saja dia untuk penyebutan yang tidak lazim ini. Aku akan memikirkan panggilan lain untukmu lain kali.

Sebenarnya, aku agak kebingungan ketika menulis surat ini. Aku harus menulis apa? Karena aku belum mengenalmu sedekat itu. Tapi Lian yang aku tahu beberapa bulan ini adalah Lian yang sebening kuah soto ayu, tak usah kecap, jeruk, sambal sudah nikmat. Seperti itupun kamu, apa adanya tak perlu apapun sudah sangat menarik banyak mata. Semakin lama, aku lebih mengenalmu dengan baik. Lian yang selalu bersemangat, terlihat lugas dan tegas walaupun sebenarnya tak ada yang tau hatimu serapuh apa.

Aku rasa kita berdua beberapa kali berada di posisi yang sama. Sedang berusaha menyelesaikan TA kita. Sering juga koalisi untuk membalas twit Fai yang super menyebalkan itu. Dan sepertinya, kita juga sedang berusaha untuk belajar mengikhlaskan sesuatu yang sudah pergi. As i know, you're never play victim when dealing with your past. Even, you never make yourself look pitiful.  You just carry your problem by yourself. You're sure a tough and independent girl that i look at. For that matter, i love being around with you to learn how to stand up for myself like you did.

Terimakasih sudah mau berteman denganku ya Lian, juga sudah pernah mau mendengarkan sedikit ceritaku tentang seseorang. Semoga kamu bisa jadi scriptwriter sukses di hari yang akan datang. Untuk saat ini semoga kita berdua lulus dari kampus ini, secepatnya.

Adios
Linda

Share:
Read More

Friday, 10 February 2017

,

Surat untuk Omo



Jember, 10 Februari 2017

Selamat sore mas Galang.
Sudah dua tahun berlalu sejak surat yang terakhir aku kirimkan kepadamu. Jadi bagaimana mas? apa mas Galang masih bingung dengan surat-suratku? Aku tau mas Galang pasti masih tak mengerti, masih menaikkan alismu ketika membaca suratku yang kedua ini. Biar aku jelaskan sekali lagi mas, tahun ini aku menulis surat ini untuk mengucapkan terima kasih karena sudah menjadi "omo" yang baik buat aku dan teman-teman.

Pertama, biar kan aku mengucapkan selamat kelulusanmu bulan lalu karea aku tak bisa datang ke acara wisudamu. Akhirnya kamu tidak jadi menghabiskan waktu di kampus selama 7 tahun. Sebenarnya aku lebih suka mas Galang berlama-lama di kampus, menghabiskan waktu bersama kami, lulus bersama kami juga tak apa. Tapi itu namanya egois kan mas. Aku ingin mas Galang cepat keluar kampus ini, agar segera berpetualang ke kampus yang baru, tentu saja untuk menempuh pendidikan Master of Linguistics. Aku yakin jika itu mas Galang pasti semua kajian ilmu itu dapat ditaklukan dengan baik. Mas Galang kan "omo" kami yang super, calon professor linguistics dambaan para mahasiswa. hhehe 

Ah iya, cepat sembuh juga mas, kata mas Rizal minggu lalu kamu terserang penyakit tifus hingga menunda untuk kembali ke kampung halaman. Maaf  aku sempat tertawa karena hal itu terdengar lucu. Saat mengerjakan tugas akhir tak satupun ku dengar dirimu tak sehat, tapi setelah wisuda dan dinyatakan lulus kamu malah terkapar tak berdaya. Mungkin kamu masih demam kampus mas, sebagian dari dirimu tak rela meninggakan Univ Jember yang kamu cinta.

Sudah cukup basa basinya, ini akan jadi bagian akhir suratku untukmu mas. Omo, terima kasih karena sudah selalu mengingatkan linda untuk selalu jadi pribadi yang lebih baik. Aku tak tau apa jadinya jika waktu itu tak kamu marahi habis-habisan karena aku menangis tak kunjung henti. Terima kasih karena sudah menjadi orang yang tetap mau medengarkan keluhanku ketika semua tak lagi mudah. Aku akan selalu menjadi Linda yang mas Galang inginkan. Linda yang tidak akan pernah menangis di depan teman-teman. Yang akan menjaga persahabatan kami agar tak akan pernah  putus di tengah jalan. Terus doakan Linda agar selalu kuat ya mas.

Aku harap mas Galang tak pernah bosan mempunyai adik-adik yang kurang ajar seperti kami berlima. Jangan lupakan kami di tempatmu yang baru ya mas. Kami menyayangimu, sangat menyayangimu.

Linda
juniormu yang masih suka minta beng-beng
Share:
Read More

Thursday, 9 February 2017

,

Tentang Jarak

4 januari 2017, di puncak tertinggi watu dodol


Jember, 9 Februari 2017


Untuk kamu, orang yang selalu membuatku bingung harus berkata apa

Hari ini aku cukup gelisah, benar-benar tak tau harus berbuat apa. Aku tau ini sulit, jarak sedemikian jauh sudah cukup menyiksa. Jadi bisakah kau mendengarkan sedikit saja. 

Baru saja beberapa jam yang lalu kita masih satu kota. Baru saja beberapa hari ini aku merasa bahagia karena jarak tak lagi ada. Tapi pertemuan memang tak akan pernah seabadi itu. Sekarang kita di sini, pasrah lagi terhadap jarak yang kian membentangi. Mari kita mulai lagi ritual ini, usaha-usaha yang kita lakukan untuk memperkecil jarak ratusan kilometer jauhnya; chat-chat yang berhamburan dan video call tengah malam.

Ada kalanya dalam hubungan ini kita membangun angan-angan yang hanya memiliki sedikit peluang untuk menjadi nyata, seperti halnya jalan berdua. Bagaimana rasanya kita diburu waktu, menghabiskan waktu selama beberapa jam hanya untuk mewujudkan angan selama berbulan-bulan tak bertemu. Tak akan ada yang pernah cukup, karena rasa rindu ini pun tak pernah mau mengerti tentang jarak. Ada pula kalanya kita dikecawakan oleh keadaan, merencanakan pertemuan sedemikian rupa namun gagal ditengah perjalanan entah karena sibukmu atau sibukku. Bahkan ada saat dimana harga tiket kereta tak lagi berharga dibanding meluapkan rindu untuk bertemu. 

Pada akhirnya, seringku pasrah kepada waktu karena kita terpisah jarak. Bahkan jika tak pernah ada jarak sejauh ini kita tak pernah bisa saling menemukan kembali. Semoga sibukmu dan sibukku hari ini adalah sibuk yag diperhitungkan oleh Tuhan. Kita hanya perlu berusaha hingga semua akan indah pada waktunya, aku percaya.

Linda
Share:
Read More

Friday, 27 January 2017

Yang tak perlu terulang

Day 10: tulislah sebuah hal yang kamu berjanji tidak akan mengulanginya lagi

Kadang hidup ini penuh penyesalan, penuh dengan hal-hal yang menurut kita tak harus terjadi. Tentu banyak hal yang juga aku sesali, tapi bagiku menyesal juga bukan sesuatu yang dapat memperbaiki suatu kondisi.

Ada hal yang tak akan ingin lagi kulakukan seperti menangisimu tengah malam hingga terdengar hingga ke kamar samping. Tapi itu sudah lama sekali 3 tahun yang lalu, jauh tertinggal di belakang. Namun akan membuat pecah tangis saat terkenang. Aku tak ingin melakukannya lagi. Cukup memalukan.

Aku tak ingin lagi memaksakan sesuatu lagi. Dua tahun ini aku belajar bahwa semua ada waktu dan tempatnya sendiri. Semua yang dipaksa tak akan berakhir dengan baik. Tak usah susah payah mengejar, karena jika hal itu memang untukmu dia akan datang dengan cara yang membahagiakan. Karena semua yang diawali dengan baik akan berakhir dengan baik pula.

Liliy

Share:
Read More

Thursday, 26 January 2017

Untuk sahabat kami yang telah berpulang

Day 9: tulislah surat untuk seseorang

Untuk Rahmawati

Hai, ma. Apa kabar?
Sudah 20 hari sejak kepergianmu, kami disini sedang berjuang ma. Tenang saja, bukan untuk melupakanmu, tapi kami sedang berjuang untuk saling menguatkan dalam menerima kepergianmu.
Banyak hal yang aku sesalkan ma. Seperti kenapa aku tak menunda kepulanganku sehari untuk berlama-lama denganmu, dengan kalian. Kenapa aku pernah memperlakukanmu dengan tidak baik hanya karena aku sedang tidak enak hati.

Maafkan aku karena sering menggodamu. Terkadang mendiamkanmu, sibuk dengan gadgetku sendiri. Maaf aku terlalu suka membuat kamarmu berantakan. Juga sering loncat-loncat di kasurmu, menggulung sprei yang sudah kamu tata rapi. Maafkan aku pula sering numpang makan dan menghabiskan jajanmu. Maafkan karena belum bisa menjadi teman yang baik.

Ma, aku ingin mengantarmu lagi, membeli kue ulang tahun Agam untuk tahun depan. Menemanimu membeli kadonya sekali lagi. Aku ingin bisa liburan lagi bersama, berkunjung ke tempat-tempat yang belum kita kunjungi. Aku ingin mengerjakan skripsi bersama dan juga merayakan kelulusan bersama-sama.

Tapi ma sebesar apa pun inginku untuk membangun kenangan dengamu lagi, itu adalah hal yang mustahil untuk dijalani. Karena aku tau Tuhan maha baik. Tuhan tau kamu sakit dan Dia tak ingin dirimu menahan sakit lebih lama. Perjuanganmu sudah selesai dan sekarang waktunya kamu berbahagia di sana, di tempat terbaik yang telah disediakan Tuhan.

Kami beruntung ma telah memiliki sahabat sepertimu. Yang selalu sabar dan tersenyum menghadapi kelakuan kami semua. Kami bahagia bisa berbagi kenangan denganmu. Kami sayang kamu ma, tapi nyatanya Tuhan lebih sayang dirimu. Kamu akan selalu ada di hati kami Rahmawati.


Liliy
(uutb)
Share:
Read More