Showing posts with label poetry. Show all posts
Showing posts with label poetry. Show all posts

Tuesday, 15 December 2020

, ,

Encounter

Every encounter is a kind of destiny.

In our world,

there are all kinds of encounters and destinies everyday.

Some of them were just a mere familiar figure

that left a faded sign in our life.

Even all you got is just a vague silhouette.

Somehow, someone is destined to pass over us.

It's too fast,

too fast that we cannot meet each other.

Even we meet,

there's no time to know each other.

Even we know each other,

we still have to say goodbye.

'cause not every encounter is a long awaited reunion.

But,  if you value it,

every long awaited reunion

is the first encounter.

Share:
Read More

Saturday, 16 February 2019

If I Haven't Met You



The moment our hearts flutter often catches us off guard.
What moved me might have been that day's humidity.
A tree leaf floating in the wind
or, you illuminated in the sunshine.
You stood before me, shining as bright as the sun.
From the moment on, i made up my mind
you'll be my side and i will also by your side.
For this reason, 
I worked hard to support you wherever you go.
However, what you have left for me all along
has been your back
whenever I raise your head for you
even the tears feel free.

Perhaps, I was wrong from the start
and since then, I've been taking step after step on the wrong path unable to turn around.
Sometimes, we're astonished by the changes in our heart, 
we want to undo these changes .
Yet, it's already beyond our power.
How much I wish that 
in the end the one by your side will be me.

Share:
Read More
,

Left without Word



In this changing world,
the person who we held yesterday may say goodbye to us today.
When we never experience the true leaving,
we may not perish what we have.
We always think what we have is not enough.
We always think there's still chance
to hear his heartbeat,
to say goodbye when being apart.
Till the last,
there is no goodbye in truly leaving.
All we can do
is too accept every goodbye before it's too late
and move on strongly.
Share:
Read More

Wednesday, 22 November 2017

,

Menggali ingatan



Untuk yang tak lagi dapat kupeluk

Jember adalah sebaik-baiknya perantauan.
Tempat mimpimu disemat untuk kemudian beradu dengan peluh dan malam-malam yang gaduh.

Kota ini pernah sehangat matahari musim semi. Menghangatkan harapan yang dilupakan. Merengkuh setiap doa yang dipanjatkan.

Ada kalanya kota ini menjelma badai di musim penghujan. Menghempas segala yang kau punya. Memporak porandakan apa yang telah kau bangun sejak lama.

Kiranya Jember adalah janji yang ingkar. Tentang ribuan rencana yang ditinggalkan oleh kisah yang pernah kita perjuangkan.
Lenyap, janji itu makin tertinggal di belakang, sejauh kakimu dilangkahkan.

Jember adalah saksi bahwa rindu seharusnya tak buru dipangkaskan. Karena tepat saat keretamu bertolak pergi. Kenanganmu tertahan tanpa bisa mengejarmu lagi.

Ahirnya Jember berubah menjadi kegetiranku pukul 4 pagi. Terlalu enggan untuk tinggal, terlalu lelah untuk pergi. Hingga yang tersisa hanya tangis yang terisak menahan perih. 

Jember, pernahkah kau mengunjunginya lagi?
Kamu akan melihat segala kenanganmu mengisi setiap ruang-ruang sunyi. Terdiam, menunggu untuk kelak kau sapa lagi.

Jember adalah aku, kamu, dan kita di waktu yang tak lagi bisa kita miliki.


Liliy | Surabaya, 22 November 2017

Note: Kali ini saya ingin sekali percaya. Dalam jarak yang tuhan ciptakan pasti akan ada jalan untuk kembali.

Share:
Read More

Friday, 3 November 2017

Disillusion

pikore


I'm sad
in the despair of my self agony.
When the sun passed by
and the darkness had interfered the sky,
I saw your retreating back
faded away in a distance.
And for long,
I've been living in the darkness
waiting in my bewilder feeling
waiting for your uncertain coming
as much as I may wish for
I should know
you never will.

Liliy | Jember, 02 May 2017
Share:
Read More

Saturday, 29 July 2017

Kembali Pulang

Kemarin hujan warnanya biru
sepertinya juga kelabu
menurutnya hujan warna warni
karna ia sering kali melintasi.
Kadang ia bermimpi jadi bunga matahari
mekar pagi
kuncup senja
apa kata sang matahari.
Bukankah manusia juga
mengikuti apa yang dikehendaki pencipta
tapi matahari tidak mencipta bunga.
Aku bingung.
Tuhan,
Apa tidak ngantuk?
Tuhan,
Apa tidak capek?
Tuhan,
Aku ingin naik balon udara
ingin melihat hujan yang ia lihat
tapi jadi pelikan juga tak apa
terbang bersamanya
atau jadi ikan
Melihatnya sebal di pinggir kolam.
Tuhan, pernah lelah tidak?
Rasanya banyak sekali keluhan
Tuhan, kenapa tidak menyenangkan semua orang?
Rasanya rasa nelangsa makin bersarang
Tuhan, bisa minta bantuan?
Biarkan segala perasaan dan rasa sakit ini ditelan lindap
Tuhan, bunga mataharinya lelap.
Share:
Read More

Sunday, 31 January 2016

,

Bangau Kertas


Untuk bangau kertas

Aku tuliskan surat pertamaku ini padamu untuk kemudian akan kau ceritakan pada seseorang yang tak berani lagi kusebut namanya.

Ada kisah yang kurahasiakan dalam setiap lipatanmu dan berharap kamu terbang suatu saat nanti. Membiarkanmu terbang bebas tanpa pernah tau seberat apa beban yang kau bawa dalam setiap kepak sayapmu.

Kenyataannya, maafkan aku yang dua tahun ini tak pernah membiarkanmu terbang dan malah mengurungmu dalam sudut ingatan yang menyakitkan. Merantai kakimu dengan kenangan masa lalu yang tak lagi sejalan dengan kenyataan.

Namun berbahagialah, hari ini aku siap melepasmu untuk sebuah rumah baru yang akan kau tinggali hingga kau tua nanti. Dan suatu saat nanti aku akan tersenyum seceria ini saat takdir mempertemukan kita lagi, aku janji.

Selamat tinggal.



Bangau kertas warna merah yang kuberikan untukmu, masihkah kau simpan? Tak apa jika sudah kau buang. Karena tak ada artinya menyimpan suatu kenang yang menyakitkan apalagi hanya sebuah bangau kertas yang tak mampu terbang.

Share:
Read More

Monday, 9 November 2015

Don't Smile

Don't smile
it's a disaster
there's thunder storm inside my lungs
but bunch of joy flooding my artery

Don't smile
it's a poison
overwhelming
as aconitum kills the bug

because your smile
my world has fallen down
and my body has melted in the floor

but, smile
everything just seems
will be fine.


8 October 2015 | 10.17
For you who merely smile.
It is part of yours that i love the most. I trust your smile that makes me believe everything will be alright.  In your smile, i know who you are.
Share:
Read More

Sunday, 1 November 2015

How do I love thee?

How do I love thee? Let me count the ways.
I love thee to the depth and breadth and height
My soul can reach, when feeling out of sight
For the ends of Being and ideal Grace.
I love thee to the level of everyday's
Most quiet need, by sun and candle-light.
I love thee freely, as men strive for Right;
I love thee purely, as they turn from Praise.
I love thee with the passion put to use
In my old griefs, and with my childhood's faith.
I love thee with a love I seemed to lose
With my lost saints – I love thee with the breath,
Smiles, tears, of all my life! – and, if God choose,
I shall but love thee better after death.

by Elizabeth Barett Browning
Share:
Read More

Tuesday, 27 October 2015

yesterday

In the edge of tiring night,
I hug his restless soul
amid the morning mist
fight inescapable fate
through endless bridge

I kiss the sun
who full of agony
and taste his heart's ache.
I wait for morning dawn
to sing for serenity
and wish his pain away.

between dew and fog,
I am hoping
to find the way
back to we used to be
yesterday.


25 October 2015 | 22.15
This poem is written for someone who have fought together to set everything back to its place a year ago. Though in the end we decided (you already decided) to give up. 
Wise man said that "memories can be painful. To forget may be a blessing". So, what am i supposed to do if i still can forget every single thing that relate with us? what am I supposed to do if i still hope for the second chance? WAKE UP.
Share:
Read More

Monday, 19 October 2015

omong kosong bintang

Kau tak kan secerah Sirius
karena kau jauh diawang
Kau tak akan semenarik Antares
karena kau partikel yang terbuang

Kuberi tahu satu rahasia
Kau Polaris,
bintang utara
sang penunjuk jalan

Ini bukan tentang konstelasi,
titik koordinat penyusun langit.
Ini tentang rasa percaya
bagaimana kau kan jadi penjaga
yang akan mengarahkan
jadi cahaya, penuntun jalan pulang.


18 Oktober 2015 | 23.12
puisi setelah uts dimana tugas syntax belum menyerang secara membabi buta. Ini cuma omong kosong untuk seseorang yang aku suka karena dia gak pernah paham esensi (mungkin). Akhir-akhir ini seneng banget nyepik lewat puisi, lumayanlah dianya gak tau. Kalo dia tau mungkin cuma diem. Ya emangnya mau direspon gimana lagi. Berharap banget lah direspon. Buat apa?




Share:
Read More

Thursday, 15 October 2015

Titipan Hujan

kusimpan senduku pada langit
dalam mendung yang menggantung
biar tertahan gumpalan abu-abu
hingga jatuh bersama rintik air.

kutitipkan tangisku pada gerimis
menyembunyikan namamu diantara tetes-tetes magis
merapal namamu hingga jatuh
melebur, hanyut bersama rinai hujan
tak berujung, tak bertujuan
biar dia bawa pergi
aku tak ingin menyimpannya lagi.


14 Oktober 2015 | 16.38
Ditulis saat berteduh di warung nasi goreng. Ditulis untuk gak tau siapa, sebagai pengingat untuk tak lagi menyimpan kesedihan. Pengingat untuk tak lagi bersedih karena ekspektasi, karena ekspektasi tak akan membawamu kemanapun selain jatuh dan harus melupakan kembali.

p.s. ini bukan postingan baper.
Share:
Read More

Wednesday, 14 October 2015

Selamat pagi

kan kukirimkan sajak-sajak pagi
bersama cahaya keemasan sang matahari,
diiringi nyanyian burung di pucuk pohon tertinggi. 

aku,
embun bening yang berlari pada selembar daun
akhirnya tergantung
siap jatuh pada bumi. 
aku, embun yang akan melengkapi pagimu
Selamat pagi.


14 Oktober 2015 | 05.17
ditulis untuk pagimu, untuk senyummu dan untuk muka bantalmu.
Selamat pagi, jangan lupa bersyukur, dan gak ada yang salah dari sebuah senyuman dipagi hari. Semoga harimu selalu membahagiakan. :)
Share:
Read More

Saturday, 3 October 2015

Bo


kau layaknya barisan angka
tersusun rumit atas pangkat dan integral
yang tak pernah bisa aku selesaikan.
kau ibarat aljabar
yang tak pernah bisa aku kira
penuh rumus yang menggila.
sedang aku siapa?

mungkin aku menyukaimu
karena hatiku mulai bereaksi
layaknya dua senyawa kimia
bak sulfat tercampur air
menghasilkan percikan
meletup - letup
tak terkendali.

menyukaimu bukan perkara remeh temeh
omong kosong matematika maupun kimia
karena bagiku, 
kau semesta
misteri sejuta ruang hampa.

lalu, aku siapa?
aku serupa debu
yang menatapmu cemburu
dan aku mengagumimu.


25 September 2015 | 10.39
Suatu saat nanti aku pastikan kamu akan membaca ini. Karena ini adalah puisi pertama untukmu yang dapat aku selesaikan dengan baik. Kamu adalah inspirasi dari segala sajak bahagia yang pernah aku reka dan aku cipta. Maaf jika kau tak suka dan entah akhirnya akan bersikap seperti apa. Aku tak kan pernah peduli.
Share:
Read More

Wednesday, 1 July 2015

untuk kamu yang dijalan pulang

Hai kamu yang menikmati senja di jalan pulang
yang merasakan jingganya dari balik kaca kereta
Hai kamu yang mungkin saja sudah menikmati senja di tanah kelahiran
yang menunggu terbenamnya sang fajar dengan segala penat yang tersisa

aku sama sekali tak tau nama stasiun tempatmu singgah kemudian berpulang
aku pun tak punya bayangan, pukul berapa kamu akan tiba di kampung halaman

yang aku tau kamu sudah bosan duduk seharian, 
dalam kereta tanpa bisa bergerak leluasa
yang aku tau kamu sudah tak sabar untuk pulang,
melepas kerinduan yang tertumpuk dari tanah perantauan.

Hai kamu yang dalam perjalanan pulang,
sampai bertemu 2 bulan yang akan datang.


29 Juni 2015 | 15.21
*ditulis untuk dia yang Senin, 29 juni 2015 sedang dalam perjalanan pulang
Share:
Read More

Friday, 3 October 2014

Susu Putih Kaleng

"Apa salah bagi perempuan untuk menyatakan cintanya terlebih dahulu pada laki-laki?" Firza mengunyah roti cokelatnya lamat-lamat, seakan tak ingin rotinya habis. Disebelahnya Dalyn hanya menanggapi dengan deheman, kedua manik matanya menerawang jauh menembus tembok di depan mereka yang sudah lapuk.
"Itu," ucapnya lirih, "tergantung persepsi orangnya. Kalau bagi laki-laki, bisa saja dia anggap hinaan karena perempuan yang menyatakan," manik matanya masih konsisten menerawang.
Kini giliran Firza yang berdehem. Remah-remah roti cokelat kunyahannya jatuh ke pangkuan paha berbalut jeans yang ia kenakan.
"Kalau bagiku sendiri, hal itu rasanya tabu karena aku tipe orang yang bingung bila laki-lakinya menolak," ada tawa kecil saat Dalyn mengakhiri kalimatnya. Tawa yang entah mengapa terasa nyinyir di bibir, tawa mengasihani diri sendiri mungkin.
"Tapi tidak bagi beberapa perempuan," lanjutnya lagi.
Firza yang sedari tadi mendengarkan sambil menggigiti roti cokelatnya, akhirnya tersenyum sumbang. Pembicaraan mereka terasa hambar, sama hambarnya dengan susu putih kaleng yang kini berada di tengah mereka, menunggu untuk diminum.

-Zafirna 

ditulis saat berteduh dibawah atap basecamp EDSA dengan perasaan getir masing masing.



Share:
Read More