Showing posts with label #30harimenulissuratcinta. Show all posts
Showing posts with label #30harimenulissuratcinta. Show all posts

Sunday, 12 February 2017

,

Selamat Jalan Rahma

full team doing gaya rahma


Tulungagung, 12 Februari 2017
Hi ma,
Selamat pagi. Hari ini kami menghabiskan 7 jam perjalanan dari jember ke tulungagung untuk memenuhi janji mengunjungimu full team ber8. Selain itu, kami semua juga rindu kamu ma.


Ma, kamu seneng gak kita semua mengunjungimu? Menemui ayah, ibu dan saudara saudaramu. Kedua orang tuamu tenang sekali ketika melihat kedatangan kami. Namun tentu saja raut kehilangan masih tergambar jelas dalam diri meraka, kehilangan bungsu yang paling disayang memang tak semudah itu. Tapi beliau tidak menunjukan itu kepada kami ma, beliau tabah sekali. Kami hampir dibuat malu karena secengeng itu.

Makammu hari ini basah karena pagi ini Tulungagung sedikit hujan, karenanya pula kami jadi sedikit telat mengunjungimu dari waktu yang di perkirakan. Aku rasa tadi pagi kamu sedang bersama kami ya ma. Karena di depan makammu, tangis kami semua pecah secara bersamaan. Hanya panji dan raly yang terlihat menahan untuk tak ikut membuncahkan emosi mereka.

Kamu tau ma, aku tak tega melihat agam hari ini. Seseorang yang kamu sayang menangis tak tertahankan. Entah ma, mungkin karena aku tak pernah melihat ia seemosional ini. Ma, terkadang aku iri denganmu bisa disayangi sedemikian hebat olehnya. Tapi juga tak bisa aku pungkiri jika mengagumi hubungan kalian yang sederhana. Aku tak menyangka kalian akan berpisah sedemikian rupa. Seperti yang sering kali kamu katakan, sejatinya manusia tidak akan tahu takdir apa yang ada di depan mereka.

Dan sekarang kami pamit pulang dulu ya ma, kami harus kembali untuk menyelesaikan tugas kami di kota perantauan. Lain kali kami ber8 pasti akan mengunjungimu lagi. Entah kapan kita belum tahu pasti. Doakan kita ya ma untuk selalu kompak dan saling menguatkan. Kami menyayangimu.

Selamat jalan Rahma.

Linda
Share:
Read More

Saturday, 11 February 2017

,

Sebening Kuah Soto



Jember, 11 Februari 2017
Halo Lian,

Aku merasa asing sekali memanggilmu Lian di surat ini, karena hasutan si Johan aku lebih sering memanggilmu "ibuk". Jadi salahkan saja dia untuk penyebutan yang tidak lazim ini. Aku akan memikirkan panggilan lain untukmu lain kali.

Sebenarnya, aku agak kebingungan ketika menulis surat ini. Aku harus menulis apa? Karena aku belum mengenalmu sedekat itu. Tapi Lian yang aku tahu beberapa bulan ini adalah Lian yang sebening kuah soto ayu, tak usah kecap, jeruk, sambal sudah nikmat. Seperti itupun kamu, apa adanya tak perlu apapun sudah sangat menarik banyak mata. Semakin lama, aku lebih mengenalmu dengan baik. Lian yang selalu bersemangat, terlihat lugas dan tegas walaupun sebenarnya tak ada yang tau hatimu serapuh apa.

Aku rasa kita berdua beberapa kali berada di posisi yang sama. Sedang berusaha menyelesaikan TA kita. Sering juga koalisi untuk membalas twit Fai yang super menyebalkan itu. Dan sepertinya, kita juga sedang berusaha untuk belajar mengikhlaskan sesuatu yang sudah pergi. As i know, you're never play victim when dealing with your past. Even, you never make yourself look pitiful.  You just carry your problem by yourself. You're sure a tough and independent girl that i look at. For that matter, i love being around with you to learn how to stand up for myself like you did.

Terimakasih sudah mau berteman denganku ya Lian, juga sudah pernah mau mendengarkan sedikit ceritaku tentang seseorang. Semoga kamu bisa jadi scriptwriter sukses di hari yang akan datang. Untuk saat ini semoga kita berdua lulus dari kampus ini, secepatnya.

Adios
Linda

Share:
Read More

Friday, 10 February 2017

,

Surat untuk Omo



Jember, 10 Februari 2017

Selamat sore mas Galang.
Sudah dua tahun berlalu sejak surat yang terakhir aku kirimkan kepadamu. Jadi bagaimana mas? apa mas Galang masih bingung dengan surat-suratku? Aku tau mas Galang pasti masih tak mengerti, masih menaikkan alismu ketika membaca suratku yang kedua ini. Biar aku jelaskan sekali lagi mas, tahun ini aku menulis surat ini untuk mengucapkan terima kasih karena sudah menjadi "omo" yang baik buat aku dan teman-teman.

Pertama, biar kan aku mengucapkan selamat kelulusanmu bulan lalu karea aku tak bisa datang ke acara wisudamu. Akhirnya kamu tidak jadi menghabiskan waktu di kampus selama 7 tahun. Sebenarnya aku lebih suka mas Galang berlama-lama di kampus, menghabiskan waktu bersama kami, lulus bersama kami juga tak apa. Tapi itu namanya egois kan mas. Aku ingin mas Galang cepat keluar kampus ini, agar segera berpetualang ke kampus yang baru, tentu saja untuk menempuh pendidikan Master of Linguistics. Aku yakin jika itu mas Galang pasti semua kajian ilmu itu dapat ditaklukan dengan baik. Mas Galang kan "omo" kami yang super, calon professor linguistics dambaan para mahasiswa. hhehe 

Ah iya, cepat sembuh juga mas, kata mas Rizal minggu lalu kamu terserang penyakit tifus hingga menunda untuk kembali ke kampung halaman. Maaf  aku sempat tertawa karena hal itu terdengar lucu. Saat mengerjakan tugas akhir tak satupun ku dengar dirimu tak sehat, tapi setelah wisuda dan dinyatakan lulus kamu malah terkapar tak berdaya. Mungkin kamu masih demam kampus mas, sebagian dari dirimu tak rela meninggakan Univ Jember yang kamu cinta.

Sudah cukup basa basinya, ini akan jadi bagian akhir suratku untukmu mas. Omo, terima kasih karena sudah selalu mengingatkan linda untuk selalu jadi pribadi yang lebih baik. Aku tak tau apa jadinya jika waktu itu tak kamu marahi habis-habisan karena aku menangis tak kunjung henti. Terima kasih karena sudah menjadi orang yang tetap mau medengarkan keluhanku ketika semua tak lagi mudah. Aku akan selalu menjadi Linda yang mas Galang inginkan. Linda yang tidak akan pernah menangis di depan teman-teman. Yang akan menjaga persahabatan kami agar tak akan pernah  putus di tengah jalan. Terus doakan Linda agar selalu kuat ya mas.

Aku harap mas Galang tak pernah bosan mempunyai adik-adik yang kurang ajar seperti kami berlima. Jangan lupakan kami di tempatmu yang baru ya mas. Kami menyayangimu, sangat menyayangimu.

Linda
juniormu yang masih suka minta beng-beng
Share:
Read More

Thursday, 9 February 2017

,

Tentang Jarak

4 januari 2017, di puncak tertinggi watu dodol


Jember, 9 Februari 2017


Untuk kamu, orang yang selalu membuatku bingung harus berkata apa

Hari ini aku cukup gelisah, benar-benar tak tau harus berbuat apa. Aku tau ini sulit, jarak sedemikian jauh sudah cukup menyiksa. Jadi bisakah kau mendengarkan sedikit saja. 

Baru saja beberapa jam yang lalu kita masih satu kota. Baru saja beberapa hari ini aku merasa bahagia karena jarak tak lagi ada. Tapi pertemuan memang tak akan pernah seabadi itu. Sekarang kita di sini, pasrah lagi terhadap jarak yang kian membentangi. Mari kita mulai lagi ritual ini, usaha-usaha yang kita lakukan untuk memperkecil jarak ratusan kilometer jauhnya; chat-chat yang berhamburan dan video call tengah malam.

Ada kalanya dalam hubungan ini kita membangun angan-angan yang hanya memiliki sedikit peluang untuk menjadi nyata, seperti halnya jalan berdua. Bagaimana rasanya kita diburu waktu, menghabiskan waktu selama beberapa jam hanya untuk mewujudkan angan selama berbulan-bulan tak bertemu. Tak akan ada yang pernah cukup, karena rasa rindu ini pun tak pernah mau mengerti tentang jarak. Ada pula kalanya kita dikecawakan oleh keadaan, merencanakan pertemuan sedemikian rupa namun gagal ditengah perjalanan entah karena sibukmu atau sibukku. Bahkan ada saat dimana harga tiket kereta tak lagi berharga dibanding meluapkan rindu untuk bertemu. 

Pada akhirnya, seringku pasrah kepada waktu karena kita terpisah jarak. Bahkan jika tak pernah ada jarak sejauh ini kita tak pernah bisa saling menemukan kembali. Semoga sibukmu dan sibukku hari ini adalah sibuk yag diperhitungkan oleh Tuhan. Kita hanya perlu berusaha hingga semua akan indah pada waktunya, aku percaya.

Linda
Share:
Read More

Monday, 1 February 2016

Pagimu Februari

Bagaimana pagimu tuan?

Pagiku kali ini cukup menarik sebagai pembuka februari. Menikmati perjalanan panjang dengan sapaan mentari pagi. Berjalan beriringan untuk sebuah tujuan yang sama dengan orang-orang pilihan yang dinamakan teman.

Kudengar pagimu hari ini ditemani secangkir kopi dengan iringan lagu cinta yang mendayu-dayu. Mungkin cukup meneduhkan bagimu yang kalut setelah pagi kita memilih jalan yang berbeda.

Aku masih sering membayangkan duduk diboncenganmu, bercanda sembari menikmati aroma tubuhmu dipagi hari. Mengelilingi tempat-tempat yang belum pernah kita kunjungi. Mengumpulkan kenangan dan menyimpannya dalam kotak memori yang akan kita buka suatu saat nanti.

Pagimu tetap tak sehangat angin subuh yang memeluk erat saat kita terbelenggu ego yang kian keras kepala. Dan angin pagi pula lah yang menyelematkan kita dari amarah mentari, saat ia cemburu kepadamu karena kau lebih sanggup meluluhkan apa yang ia sebut hati.

Namun seindah, semenarik dan semeneduhkan apapun pagimu dan pagiku. Semua itu tak akan sebanding dengan pagi kita.

Share:
Read More

Sunday, 31 January 2016

,

Bangau Kertas


Untuk bangau kertas

Aku tuliskan surat pertamaku ini padamu untuk kemudian akan kau ceritakan pada seseorang yang tak berani lagi kusebut namanya.

Ada kisah yang kurahasiakan dalam setiap lipatanmu dan berharap kamu terbang suatu saat nanti. Membiarkanmu terbang bebas tanpa pernah tau seberat apa beban yang kau bawa dalam setiap kepak sayapmu.

Kenyataannya, maafkan aku yang dua tahun ini tak pernah membiarkanmu terbang dan malah mengurungmu dalam sudut ingatan yang menyakitkan. Merantai kakimu dengan kenangan masa lalu yang tak lagi sejalan dengan kenyataan.

Namun berbahagialah, hari ini aku siap melepasmu untuk sebuah rumah baru yang akan kau tinggali hingga kau tua nanti. Dan suatu saat nanti aku akan tersenyum seceria ini saat takdir mempertemukan kita lagi, aku janji.

Selamat tinggal.



Bangau kertas warna merah yang kuberikan untukmu, masihkah kau simpan? Tak apa jika sudah kau buang. Karena tak ada artinya menyimpan suatu kenang yang menyakitkan apalagi hanya sebuah bangau kertas yang tak mampu terbang.

Share:
Read More

Saturday, 28 February 2015

Tuesday, 17 February 2015

Sejak Kapan

           

 Untuk kamu yang biasa aku panggil Zombie


"months ago we stayed up till 4 a.m talking, and today I don't even know how to say hey"

        Sebenernya aku sudah mulai berfikir untuk tidak lagi menulis surat, apalagi surat untukmu. Beberapa minggu ini kegiatanku membuatku malas menulis. Bahkan untuk sekedar menulis di twitter atau facebook saja aku sudah malas, apalagi surat untukmu. Tapi hari ini aku tak tau harus bagaimana, peristiwa hari ini cukup untuk membuatku menulis tentang kamu lagi. Hanya dengan cara menulis ini aku bisa berkeluh kesah tentangmu sepuas hati tanpa perlu meminta waktumu yang berharga itu. Hanya dengan menulis aku dapat bercerita ketika kamu tak punya waktu untuk sekedar mendengarkan. Hanya dengan menulis, aku seolah dapat berbicara denganmu tanpa perlu kau tau.

Share:
Read More

Saturday, 7 February 2015

untuk mentor terbaik kami

kepada mas yang dengan sabarnya membantu kami

Hai, mas Galang? Apa kabarnya? Sudah satu bulan lebih ya tidak bertemu,  lantaran ini masih dalam masa libur kuliah.

Jika suatu hari mas Galang membaca dan bingung maksud dari surat ini apa, aku pun sebenarnya tidak tau kenapa aku harus menulis surat ini untuk mas Galang. Ah pasti mas langsung menaikan alismu saat membaca surat ini. Jadi biar aku jelaskan. Melalui event #30harimenulissuratcinta yang diadakan @poscinta ini aku ingin mengucapkan terimakasih sebanyak-banyaknya buat mas Galang. Terimakasih sudah mau membantu kami (yang pasti mas Galang tau siapa saja) dalam hal belajar dan memahami setiap materi mata kuliah yang rumit itu.

Share:
Read More

Wednesday, 4 February 2015

modus pertama


Teruntuk mas tukang modus terhandal

Malam itu hujan saat pertama kali aku mengenalmu. Tak ada yang istimewa. Bahkan kita tak dipertemukan seindah senja. kita justru dipertemukan oleh pekatnya malam berbalut dinginnya hujan. Mungkin itu cara Tuhan paling indah untuk mempertemukan kita. Awal dimana semua cerita manis dan pahit ini dimulai. Pernahkah kau menyesalinya? Pertemuan awal kita.

 Adakah kau mengingatnya? Junior yang sekilas ada dihadapanmu saat kau marah. Junior yang kau sela pembicaraan dengan orang yang dulu ia kagumi. Junior yang kau bilang mirip adik temanmu. Junior yang sudah berani mengatakan kalau kamu modus diawal perkenalannya. Junior yang diam-diam memperhatikanmu saat kamu bercanda dengan temanmu. Adakah kau ingat setiap detail pertemuan kita seperti aku mengingat semuanya? bahkan aku tak yakin kau akan ingat jika aku tak menyampaikannya. Ah dasar kamu pelupa.

Share:
Read More