❝ We tell ourselves stories in order to live ❞

Wednesday, 4 February 2015 @ 12:06 1 comment[s]



Teruntuk mas tukang modus terhandal

Malam itu hujan saat pertama kali aku mengenalmu. Tak ada yang istimewa. Bahkan kita tak dipertemukan seindah senja. kita justru dipertemukan oleh pekatnya malam berbalut dinginnya hujan. Mungkin itu cara Tuhan paling indah untuk mempertemukan kita. Awal dimana semua cerita manis dan pahit ini dimulai. Pernahkah kau menyesalinya? Pertemuan awal kita.

 Adakah kau mengingatnya? Junior yang sekilas ada dihadapanmu saat kau marah. Junior yang kau sela pembicaraan dengan orang yang dulu ia kagumi. Junior yang kau bilang mirip adik temanmu. Junior yang sudah berani mengatakan kalau kamu modus diawal perkenalannya. Junior yang diam-diam memperhatikanmu saat kamu bercanda dengan temanmu. Adakah kau ingat setiap detail pertemuan kita seperti aku mengingat semuanya? bahkan aku tak yakin kau akan ingat jika aku tak menyampaikannya. Ah dasar kamu pelupa.



kali pertama aku mengenalmu adalah saat kamu marah-marah. Sungguh tidak sopan marah-marah dihadapan para junior yang bahkan tak mengerti apa-apa. Setelah itu berlanjut perkenalan dengan modus bodohmu itu. Ah aku lupa kalo kamu senior, kamu pasti punya seribu satu cara untuk berkenalan. aku bahkan tak pernah menyangka kau akan menanyakan hal se’tidak-penting’ itu. ya tentu saja aku tak  akan mengerti semua itu hanya sebagai alasan untuk bertegur sapa. Kamu terlalu aneh diawal perkenalan kita. Tapi tahukah kamu bahwa setelah itu ada sepasang mata yang diam-diam memperhatikanmu. Diam diam mulai menganggumi caramu tersenyum. Kamu tak akan tau jika aku tak pernah menceritakannya. Ah dasar kamu gak peka.

Entah apa yang merasukiku hingga aku nekat menunggumu pulang.  Aku yang berlarian di lorong menuju halaman depan hanya untuk melihatmu lagi. Entah aku harus bangga atau justru malu dengan sikapku yang malah berakhir mencegat kepulanganmu. Kamu masih ingat apa yang aku tanyakan malam itu? Sungguh aku masih malu karena beraninya bertanya account twittermu. Ah, aku merasa terlalu kekinian. Siapa aku ini, beraninya meminta account twitter senior yang baru dikenalnya tak lebih dari 2 jam. 

Tidak ada yang istimewa bukan dari pertemuan kita. Bahkan tak seperti kisah seindah dongeng ataupun seromantis apa yang dipertontonkan dalam ftv. Malah hal ini cukup bodoh untuk sekedar diceritakan lagi padamu. Terimakasih telah mengajaku bicara malam itu. Terimakasih untuk segala modusmu yang berhasil membingungkanku. Terimakasih untuk setiap kisah yang kau ceritakan padaku. Ya, pertemuan pertama kita, kesempatan yang teramat penting untuk aku lupakan setiap detailnya. Membawa semua kenangan serta rindu yang menyeruak setiap kali aku mengingatnya. Dan  pada akhirnya, pertemuan pertama kita berkakhir dengan lambaian tangan seiring dengan senyumku yang terus mengembang.

Semoga kamu selalu menjadi kakak terbaikku.



salam

junior yang kau modusi untuk berkenalan malam itu.

Labels:


1 Comments:

Blogger ikavuje said...

waaaww, pengakuan :D sweettt
eh tapi dia jomblo gak? :|

5 February 2015 at 09:46  

Post a Comment








Home About Friends eMail

Di tempat ini, aku menulis untuk bahagia dan sedihku yang tak bisa aku ceritakan padamu secara nyata. Aku memilih menyimpan ceritaku pada layar maya dan menikmatinya untuk diri sendiri.

Linda Purwati Halim
Banyuwangi-Jember
Indonesia

Criticism is mostly welcomed

Recent Updates

Leave Your Footprint
See your own Mesage here



Find me here




made with love, ayemrawi
edited by me ((lindaAP))