❝ We tell ourselves stories in order to live ❞

Friday, 9 October 2015 @ 23:06 0 comment[s]


Tak sedetikpun Gayuh mampu melupakan Seto yang telah mengkhianatinya. Gayuh sangat mendendam. Ia kini sungguh membenci laki-laki itu. Seto adalah makhluk yang paling dihindari Gayuh selama ini. Darahnya seketika mendidih ketika ia tak sengaja mendengar sesuatu yang berhubungan dengan Seto. Tak jarang pula Gayuh merapal namanya, berdoa agar Seto binasa entah tertabrak kereta atau terbakar ditelan api. Namun takdir mengatakan lain, ia harus berhadapan dengan Seto sekali lagi. Pertemuan kembali dengan lelaki itu bak kiamat di hidupnya serta bagaimana memori-memori yang telah lama ia kubur kembali berhamburan mengacaukan isi hatinya. Hatinya seakan tertancap ribuan paku, sakit tak tertahankan. Seketika suhu tubuhnya meninggi, matanya memerah seakan memendam amarah. Laki-laki itu kini duduk dihadapannya dengan pakaian rapi dengan dokumen-dokumen penting siap untuk diwawancara. Ya, seto adalah salah satu dari ribuan pelamar kerja di perusahaannya saat ini. Seto cukup tampan dan gagah dengan track record yang cemerlang. Ia adalah pelamar yang memenuhi kualifikasi atau bahkan layak untuk diterima. Namun seakan termakan oleh rasa dendam, Gayuh berfikir untuk menggagalkan dan mempermalukannya. Ia punya kuasa untuk menentukan siapa yang pantas untuk diterima di kantornya dan Seto bukanlah salah satunya.


                Tetapi dia harus bersikap professional kali ini, dia tidak boleh terpengaruh dengan dendam masalalunya dalam mengambil keputusan. Mereka bukan lagi remaja ababil yang dengan mudah terpengaruh perasaan. Dengan mata yang masih merah, Gayuh menatap mata laki-laki di seberang meja. Dia mencoba untuk tersenyum. Akan tetapi semua usahanya untuk bersikap professional kembali goyah ketika dia mendengar suara Seto setelah sekian lama. Suara laki-laki tersebut kembali membawa kenangan-kenangan pahit yang selalu ingin ia lupakan. Dengan mencengkeram map merah yang ada di hadapannya dia berusaha menenangkan dirinya. Begitu keras cengkeramannya hingga jarinya tidak merasakan apapun. Seto kembali berbicara, tanpa tahu sedikitpun kekacauan yang ada di dalam diri Gayuh. Gayuh menggapai gelas teh yang ada di mejanya, dia harus tenang. Tetapi entah kenapa, siang ini teh itu tidak terasa manis sama sekali. Meskipun sudah bertahun-tahun Gayuh berusaha melupakan kejadian yang membuatnya begitu membenci laki-laki di depannya itu, tapi potongan-potongan kejadian yang terjadi lima tahun tersebut masih sering muncul dalam mimpi buruknya. Gayuh ingat, bagaimana selama lima tahun ini dia selalu menghindari dan begitu membenci aroma melati, aroma yang dulu pernah sangat disukainya. Kini dengan Seto duduk di depannya, tersenyum dan berbicara seperti tidak pernah terjadi apa-apa, Gayuh kembali mencium aroma itu. Melati. Tanpa berfikir apa-apa lagi, Gayuh mengangkat tangannya untuk menghentikan monolog Seto. Ia tak peduli jika dianggap menuhankan ego dan dicap tak profesional. Karena ia tak akan mungkin bisa menerima lelaki yang pernah menghancurkan hidup adiknya, Gayatri. Dan Seto adalah lelaki yang menyebabkan Gayuh harus berlutut di depan makam penuh dengan aroma melati ketika Gayatri memutuskan untuk bunuh diri setelah ditinggalkan Seto di hari pernikahan mereka. 



9 Oktober 2015 | 08.13
Ditulis untuk tugas UTS Creative Writing class C. 
Terimakasih banyak untuk mbak Deta Malatasya sudah mau membantu dalam editing tanda baca, bahasa dan lain-lainya. 

0 Comments:

Post a Comment








Home About Friends eMail

Di tempat ini, aku menulis untuk bahagia dan sedihku yang tak bisa aku ceritakan padamu secara nyata. Aku memilih menyimpan ceritaku pada layar maya dan menikmatinya untuk diri sendiri.

Linda Purwati Halim
Banyuwangi-Jember
Indonesia

Criticism is mostly welcomed

Recent Updates

Leave Your Footprint
See your own Mesage here



Find me here




made with love, ayemrawi
edited by me ((lindaAP))